Minggu, 08 November 2009

Tinjauan ACUTE STRESS DISORDER dengan contoh kasus

BAB I

PENDAHULUAN

Reaksi stres akut (juga disebut gangguan stres akut, shock psikologis, mental shock, atau sekedar, shock) adalah sebuah kondisi psikologis yang timbul sebagai tanggapan terhadap peristiwa yang mengerikan.

"Respons stres akut" pertama kali dideskripsikan oleh Walter Cannon pada tahun 1920 sebagai sebuah teori bahwa hewan-hewan bereaksi terhadap ancaman dengan pembuangan umum dari sistem saraf simpatik. Respons ini kemudian dikenal sebagai tahap pertama dari sindrom adaptasi umum yang mengatur tanggapan stres di antara vertebrata dan organisme lain.

Gangguan stres akut ditandai dengan perkembangan kecemasan yang parah, disosiatif, dan gejala lain yang terjadi dalam waktu satu bulan setelah terkena stresor traumatis yang ekstrem (misalnya, menyaksikan kematian atau kecelakaan serius).

Sebagai tanggapan terhadap peristiwa traumatik, individu mengembangkan gejala disosiatif. Individu dengan gangguan stres akut mempunyai penurunan respon emosional, seringkali sulit atau tidak mungkin untuk mengalami kenikmatan dalam kegiatan-kegiatan menyenangkan sebelumnya, dan sering merasa bersalah karena mengejar tugas-tugas kehidupan biasa.

Seseorang dengan gangguan stress akut dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi, merasa terlepas dari tubuh mereka, pengalaman dunia sebagai tidak nyata atau mimpi, atau mengalami kenaikan kesulitan mengingat detail spesifik dari peristiwa traumatik (amnesia disosiatif).

BAB II

LAPORAN KASUS

Ny. Aria, 26 tahun. Karyawan sebuah perusahaan swasta di Jakarta, dibawa oleh kepala unit kerjanya ke UGD RS Trisakti setelah ditemukan berguling-guling di lantai tempat kerjanya sambil berulang-ulang berteriak ketakutan : “Lepaskan saya, lepaskan saya, tinggalkan saya sendiri”, seperti orang kesurupan.

Ny. Aria adalah seorang karyawan yang rajin dan baik. Selama ini tidak ada masalah sama sekali dalam pekerjaannya sampai terjadi peristiwa yang sangat mengejutkan 2 minggu yang lalu saat Ny. Aria mendapat giliran tugas kerja malam hari. Ketika ia menuju ke tempat kerjanya, di tempat pemberhentian bus yang waktu itu tampak sepi, tiba-tiba ada 2 orang pria bertubuh besar yang sengaja mendorongnya hingga ia terjatuh. Kedua pria itu dengan garang mengancam akan mencekik lehernya hingga patah bila ia berani berteriak. Kemudian kedua pria tadi berusaha hendak memperkosa Ny. Aria. Beruntung mendadak terdengar ada orang yang sedang mendekat, dengan serta merta kedua pria tadi lalu lari meninggalkan Ny. Aria tergeletak di lantai seorang diri. Peristiwa itu membuat Ny. Aria sangat terkejut, namun tidak ada luka yang berarti di tubuhnya. Setelah peristiwa itu, Ny. Aria tampak murung, namun ia tetap menjalankan tugas pekerjaannya dan berusaha melupakan peristiwa itu. Ia menolak anjuran keluarga dan teman-temannya untuk menceritakan kejadian yang ia alami. Ia terlihat menarik diri dari pergaulan sosial, berdiam diri saja di rumah, hanya keluar bila hendak bekerja. Seminggu setelah kejadian, ia mulai sering mimpi buruk tentang peristiwa itu dan terbangun dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Teman-teman kerjanya memperhatikan perubahan pada dirinya, ia menjadi sering gelisah dan mudah terkejut.

Ia juga menghindari transportasi umum dan menolak menonton acara tv apapun, takut kalau-kalau melihat sesuatu yang dapat membangkitkan ingatannya terhadap peristiwa perkosaan itu yang telah diusahakan dengan kuat untuk dilupakan. Ny. Aria akhirnya dibawa berobat ke UGD RS Trisakti ketika suatu malam supervisornya melihat ia tergeletak berguling-guling di lantai sambil berteriak-teriak: “Lepaskan saya, lepaskan saya, tinggalkan saya sendiri….” seperti orang kesurupan. Kepada dokter, Ny. Aria menyatakan bahwa dalam pikirannya sering muncul kembali peristiwa pemerkosaan itu dan ia juga sering mendengar suara kedua pria yang ingin membunuhnya.

Ny. Aria sudah bekerja di kantornya selama lebih dari 5 tahun. Dari pernikahannya, ny. Aria belum mendapat anak. Dua tahun yang lalu, ia cerai dari suaminya, sejak itu ia tinggal lagi bersama orang tua dan saudara-saudaranya. Ny. Aria adalah anak pertama dari 3 bersaudara, semuanya perempuan. Walaupun hanya tamat SMA, prestasi di sekolah cukup baik. Ny. Aria tidak pernah tinggal kelas. Teman-temannya banyak dan hingga sekarang masih sering kumpul-kumpul. Teman-temannya menilai Ny. Aria sebagai orang yang ramah dan mudah bergaul, serta menyenangkan. Dari pemeriksaan fisik dan laboratorium, tidak ditemukan kelainan.

Identitas pasien:

Nama : Ny. Aria

Umur : 26 tahun

Jenis kelamin : perempuan

Alamat : Jl. X

Pekerjaan : Karyawan swasta

Status perkawinan : bercerai 2 tahun yang lalu

Riwayat Psikiatrik :

  1. Keluhan utama: berguling-guling di lantai tempat kerjanya sambil berulang-ulang berteriak ketakutan : “Lepaskan saya, lepaskan saya, tinggalkan saya sendiri”, seperti orang kesurupan.

2. Riwayat gangguan sekarang:

◦ Sering mengalami mimpi buruk mengenai peristiwa percobaan pemerkosaan

yang pernah dialaminya.

◦ Sering gelisah dan mudah terkejut.

◦ Berdiam diri saja di rumah, hanya keluar bila hendak bekerja.

◦ Menghindari transportasi umum dan menolak menonton acara tv apapun.

  1. Riwayat gangguan dahulu:

◦ Mengalami peristiwa percobaan pemerkosaan dua minggu yang lalu

  1. Kondisi medik umum: -
  2. Riwayat medikasi: -
  3. Riwayat kehidupan pribadi:

◦ Bercerai dengan suaminya 2 tahun yang lalu dan sejak itu ia tinggal lagi bersama orang tua dan saudara-saudaranya.

  1. Riwayat keluarga:

◦ Anak pertama dari 3 bersaudara, semuanya perempuan.

  1. Riwayat sosial/ekonomi:

◦ Menarik diri dari pergaulan sosial, berdiam diri saja di

rumah, dan hanya keluar bila hendak bekerja.

Pemeriksaan Status Mental:

I. Gambaran Umum:

A. Penampilan: tampak murung

B. Kesadaran:

◦ Biologis : compos mentis

◦ Psikologis dan sosial : terganggu

C. Perilaku dan aktifitas psikomotor: gelisah, mudah terkejut.

D. Sikap terhadap pemeriksa: terdapat kontak mata, kooperatif, dapat menceritakan masalahnya.

II. Alam perasaan:

A. Mood: gejala mood hipothym, terdapatnya episode depresi, dapat dilihat dari hilangnya minat terhadap pergaulan sosial, mimpi buruk berulang yang menyebabkan gangguan tidur, gangguan psikomotor berupa sering gelisah dan mudah terkejut.

B. Afek: ekspresi afektif tampak murung.

III. Fungsi intelektual:

- Taraf pendidikan : SMA

- Orientasi : -

- Daya Ingat : -

- Konsentrasi : -

- Pikiran Abstrak : -

- Bakat Kreatif : -

IV. Gangguan persepsi:

- Halusinasi visual: dalam pikirannya sering muncul kembali peristiwa pemerkosaan itu.

- Halusinasi auditorik: sering mendengar suara kedua pria yang ingin membunuhnya.

V. Proses pikir:

A. Arus pikir: -

B. Isi pikir: -

VI. Pengendalian impuls: ditemukan berguling-guling di lantai kantornya sambil

berteriak-teriak.

VII. Daya nilai:

- Daya nilai realitas: halusinasi

- Daya nilai sosial: menarik diri

- Uji daya nilai:-

VIII. Tilikan: derajat 1

IX. Taraf kepercayaan: kebenaran informasi yang diberikan pasien dapat dipercaya.

Pemeriksaan fisik:

- Tidak ditemukan kelainan

Pemeriksaan penunjang:

◦ Pemeriksaan laboratorium: Tidak ditemukan kelainan.

Diagnosis Multiaksial:

-Aksis I : gangguan terkait stress ( gangguan stress akut).

-Aksis II : Tidak ada gangguan kepribadian

Tidak ada retardasi mental .

-Aksis III : Tidak ada

-Aksis IV : Masalah berkaitan dengan interaksi hukum/criminal.

Dalam kasus ini terdapat percobaan pemerkosaan.

-Aksis V : GAF-70

Terdapat gejala ringan dan menetap.

Daftar Masalah yang ditemukan:

1. Problem Organobiologik: Tidak ada.

2. Problem Psikologis:

- Tampak murung, sering gelisah, dan mudah terkejut

- Mimpi buruk

-Halusinasi dan gangguan tingkah laku (berteriak-teriak dan berguling-guling)

- Pikirannya sering muncul kembali peristiwa pemerkosaan (flashback)

- Sering mendengar suara kedua pria yang ingin membunuhnya

3. Problem Sosiokultural:

- Berdiam diri di rumah

- Menolak menonton televisi

- Menarik diri dari pergaulan social

- Menghindari transportasi umum

Tindakan-tindakan yang perlu dilakukan:

  • Pasien dibawa ke rumah sakit karena berteriak-teriak ketakutan dan berguling-guling di lantai tempat kerjanya sehingga untuk menenangkan diberikan antipsikotik yaitu gologan phenotiazide yaitu clorpromazin.
  • Setelah pasien tenang, dilakukan anamnesis untuk mengetahui lebih jauh tentang apa yang sedang dialami oleh pasien. Anamnesis yang dapat dilakukan secara autoanamnesis atau alloanamnesis.

Prognosis:

Ad Vitam : Bonam

Ad Fungsionam : Dubia ad Bonam

Ad Sanasionam : Dubia ad Bonam

( Sering kambuh jika ada stressor kembali)

BAB III

PEMBAHASAN

Problem – problem Ny. Aria dapat dibagi menjadi, yaitu :

  • Berguling-guling di lantai tempat kerja
  • Berulang-ulang berteriak ketakutan : “Lepaskan saya, lepaskan saya, tinggalkan saya sendiri”, seperti orang kesurupan.
  • Dua minggu yang lalu Ny. Aria mengalami peristiwa traumatik (percobaan pemerkosaan)
  • Tampak murung
  • Menarik diri dari pergaulan sosial, berdiam diri saja di rumah, hanya keluar bila hendak bekerja
  • Seminggu setelah kejadian, ia mulai sering mimpi buruk tentang peristiwa itu dan terbangun dengan keringat yang membasahi tubuhnya
  • Teman-teman kerjanya memperhatikan perubahan pada dirinya, ia menjadi sering gelisah dan mudah terkejut
  • Ia juga menghindari transportasi umum dan menolak menonton acara tv apapun, takut kalau-kalau melihat sesuatu yang dapat membangkitkan ingatannya terhadap peristiwa perkosaan itu yang telah diusahakan dengan kuat untuk dilupakan
  • Kepada dokter, Ny. Aria menyatakan bahwa dalam pikirannya sering muncul kembali peristiwa pemerkosaan itu dan ia juga sering mendengar suara kedua pria yang ingin membunuhnya
  • Dua tahun yang lalu, ia cerai dari suaminya

Untuk lebih ringkasnya, daftar problem Ny. Aria dibagi menjadi berikut ini:

Organobiologik

Psikologik

Sosiokultural

Tidak ada

Tampak murung, sering gelisah, dan mudah terkejut

Berdiam diri di rumah


Mimpi buruk

Menolak menonton tv


Halusinasi dan gangguan tingkah laku (berteriak-teriak dan berguling-guling)

Menarik diri dari pergaulan sosial


pikirannya sering muncul kembali peristiwa pemerkosaan (flashback)

Menghindari transportasi umum


sering mendengar suara kedua pria yang ingin membunuhnya


Hipotesis yang dapat disimpulkan:

· Post Traumatic Stress Disorder

Pada PTSD, pasien harus mengalami suatu stress emosional yang besar yang bersifat traumatic bagi setiap orang. Peristiwa trauma tersebut termasuk trauma peperangan, bencana alam, penyerangan, pemerkosaan, dan kecelakaan yang serius. PTSD terdiri dari pengalaman kembali trauma melalui mimpi dan pikiran yang membangunkan (wakin through), penghindaran yang eprsisten oleh penderita terhadap trauma dan penumpulan responsivitas pada penderita tersebut, kesadaran berlebihan (hyperarousal) yang persisten.

· Gangguan Stress Akut

Gangguan stress akut dengan PTSD pada dasarnya sama, baik dari segi gejala-gejala, etiologi yang berupa stressor. Menurut DSM-IV perbedaan antara gangguan stress akut dengan PTSD adalah lamanya gejala berlangsung yaitu pada gangguan stress akut berlangsung 2 hari hingga 1 bulan sedangkan pada PTSD berlangsung lebih dari 1 bulan.

· Gangguan Panik

Gangguan panik adalah ditandai dengan terjadinya serangan panik yang spontan dan tidak diperkirakan. Gangguan panik ini sering disertai dengan adanya agoraphobia yaitu ketakutan berada sendirian di tempat-tempat publik. Pasien ini dibawa berobat ke rumah sakit dengan keluhan berteriak-teriak ketakutan serta berguling-guling di lantai tempat kerjanya sehingga hal ini mendukung adanya suatu serangan panic yang spontan. Selain itu, pasien juga menghindari tempat-tempat umum atau transportasi umum.

Kriteria diagnostik Acute Stess Disorder :

A. Orang yang telah terpapar dari suatu kejadian traumatic apabila ditemukan:

1. Orang yang mengalami atau dihadapkan dengan suatu kejadian yang berupa ancaman kematian atau cedera yang serius atau ancama kepada integritas fisik diri sendiri atau orang lain.

2. Respon orang tersebut berupa rasa takut yang kuat, rasa tidak berdaya atau horror.

B. Salah satu setelah mengalami kejadian yang menakutkan, individu mengalami salah satu dari gejala disosiatif berikut:

1. Perasaan subjektif kaku, terlepas atau tidak ada responsifitas emosi.

2. Penurunan kesadaran terhadap sekelilingnya.

3. Derealisasi.

4. Depersonalisasi.

5. Amnesia disosiatif, yaitu ketidakmampuan untuk mengingat aspek penting dari trauma.

C. Kejadian traumatik secara menetap dialami kembali dalam sekurangnya satu cara berikut: pikiran, mimpi, ilusi, episode kilas balik yang rekuran atau penderitaan saat terpapar dengan pengingat kejadian traumatik.

D. Penghindaran jelas terhadap stimuli yang menyadarkan trauma, misalnya pikiran, perasaan, percakapan, aktifitas, tempat, orang.

E. Gejala kecemasan yang nyata atau peningkatan kesadaran.

F. Gangguan yang menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau kondisi penting lain.

G. Gangguan berlangsung minimal 2 hari dan maksimal 4 minggu dan terjadi dalam 4 minggu setelah kejadian traumatik.

I. Tidak karena efek fisiologis dari suatu zat atau kondisi medis umum.

Pada pasien ini memenuhi kriteria diagnostik untuk Acute Stress Disorder adalah:

- Menolak menceritakan kembali kejadian yang pernah dialami, terlihat menarik diri dari pergaulan social, berdiam diri saja di rumah, hanya keluar bila hendak bekerja, menghindari transportasi umum, dan menolak menonton acara televisi apapun.

Hal ini merupakan bentuk dari suatu penghindaran yang jelas dari stimuli yang menyadarkan trauma. (kriteria D).

- Sering mimpi buruk, terbangun dengan berkeringat, menjadi sering gelisah,

dan mudah terkejut.

Hal ini merupakan bentuk dari gejala kecemasan yang nyata dan peningkatan kesadaran. (kriteria E).

- Kejadian tersebut berlangsung dua minggu yang lalu. (kriteria G).

Diagnosis multiaksial pada kasus ini :

- Aksis I : gangguan terkait stress ( gangguan stress akut).

- Aksis II : Tidak ada gangguan kepribadian

Tidak ada retardasi mental .

- Aksis III : Tidak ada

- Aksis IV : Masalah berkaitan dengan interaksi hukum/criminal.

Dalam kasus ini terdapat percobaan pemerkosaan.

- Aksis V : GAF-70

Terdapat gejala ringan dan menetap.

Patofisiologi terjadinya hal-hal yang dirasakan oleh pasien:

Disebabkan oleh adanya persitiwa traumatik yaitu percobaan pemerkosaan yang membuat pasien stress. Sebagai contoh bila terdapat rasa takut, tubuh mengaktifkan "melawan atau lari" jawaban. Dalam reaksi, tubuh melepaskan adrenalin, yang bertanggung jawab untuk meningkatkan tekanan darah dan detak jantung dan peningkatan glukosa ke otot (untuk memungkinkan melarikan diri dengan cepat dalam menghadapi ancaman bahaya). Namun, saat bahaya yang cepat dan mengancam yang mungkin dilakukan adalah pergi, tubuh mulai proses mematikan respons stres, dan proses ini melibatkan pelepasan lain hormon yang dikenal sebagai kortisol.

Jika tubuh tidak cukup menghasilkan kortisol untuk menutup penerbangan atau reaksi stres, dapat terus merasakan efek stres adrenalin. Korban trauma yang mengembangkan post-traumatic stress disorder seringkali memiliki tingkat yang lebih tinggi merangsang hormon lain (katekolamin) di bawah kondisi normal di mana ancaman trauma tidak hadir. Hormon yang sama ini meningkat ketika mereka diingatkan pada trauma yang pernah dialami.

Secara fisik, tubuh juga akan meningkatkan detak jantung. Kaskade ini perubahan fisik, satu pemicu lain, menunjukkan bahwa awal intervensi dapat menjadi kunci untuk berangkat efek post-traumatic stress disorder.

Stress inilah yang akan merangsang HPA axis (hippothalamus-pituitary-adrenal axis) yang akan menghasilkan hormon kortisol. Hormon kortisol yang meningkat menandakan adanya stress. Dalam keadaan normal hormone kortisol dapat mengirimkan mekanisme umpan balik negatif sehingga pembentukan hormone kortisol dapat dihentikan bila stress telah dapat diatasi oleh diri seseorang. Namun, bila stress berlangsung terus menerus mekanisme umpan balik negative dari hormone kortisol tidak dapat melakukan fungsinya dengan optimal sehingga hormone kortisol terus diproduksi yang mengakibatkan ketidakseimbangan neurotransmitter yang akhirnya menyebabkan gangguan neuroendokrin dan perubahan neurofisiologi.

Tindakan-tindakan yang perlu dilakukan di UGD adalah sebagai berikut :

Ø Pasien ini dibawa ke rumah sakit karena berteriak-teriak ketakutan dan berguling-guling di lantai tempat kerjanya sehingga untuk menenangkan diberikan antipsikotik yaitu gologan phenotiazide yaitu clorpromazin.

Ø Setelah pasien tenang, dilakukan anamnesis untuk mengetahui lebih jauh tentang apa yang sedang dialami oleh pasien. Anamnesis yang dapat dilakukan secara autoanamnesis atau alloanamnesis.

Ø Pemeriksaan Fisik

Untuk mengetahui adanya cedera pada anggota tubuh pasien karena dilihat dari riwayat pasien pernah sengaja didorong oleh pemerkosa hingga terjatuh. Dalam kasus ini pasien tidak mengalami kelainan dalam pemeriksaan fisik dan laboratorium.

Terapi

Pada umumnya gangguan sress akut (ASD) dapat sembuh dengan sendirinya, namun perlu mendapat tindakan lebih lanjut apabila berkembang menjadi gangguan stress pasca trauma (PTSD).

Terapi perilaku kognitif yang mencakup eksposur dan restrukturisasi kognitif efektif dalam mencegah PTSD pada pasien yang didiagnosis dengan klinis ASD dengan hasil yang signifikan. Kombinasi relaksasi, restrukturisasi kognitif, imaginal eksposur dan vivo eksposur lebih unggul untuk mendukung konseling.

Apabila sudah berkembang menjadi PTSD, ada dua macam terapi pengobatan yang dapat dilakukan penderita PTSD, yaitu dengan menggunakan farmakoterapi dan psikoterapi.

Farmakoterapi :

Benzodiazepin

- Estazolam 0,5-1 mg per os,

- Oksanazepam10-30 mg per os,

- Diazepam (valium) 5-10 mg per os,

- Klonazepam 0,25-0,5 mg per os, atau

- Lorazepam 1-2 mg per os atau IM

Psikoterapi

Para terapis yang sangat berkonsentrasi pada masalah PTSD percaya

bahwa ada tiga tipe psikoterapi yang dapat digunakan dan efektif untuk penanganan PTSD, yaitu:

Anxiety management

1) relaxation training, yaitu belajar mengontrol ketakutan dan kecemasan secara sistematis dan merelaksasikan kelompok otot -otot utama,

2) breathing retraining, yaitu belajar bernafas dengan perut secara perlahan -lahan, santai dan menghindari bernafas dengan tergesa-gesa yang menimbulkan perasaan tidak nyaman, bahkan reaksi fisik yang tidak baik seperti jantung berdebar dan sakit kepala,

3) positive thinking dan self-talk, yaitu belajar untuk menghilang-kan pikiran negatif dan mengganti dengan pikiran positif ketika menghadapi hal –hal yang membuat stress (stresor),

4) asser-tiveness training, yaitu belajar bagaimana mengekspresikan harapan, opini dan emosi tanpa menyalahkan atau menyakiti orang lain,

5) thought stopping, yaitu belajar bagaimana mengalihkan pikiran ketika kita sedang memikirkan hal-hal yang membuat kita stress (Anonim, 2005b).

Cognitive therapy

Terapis membantu untuk merubah kepercayaan yang tidak rasional

yang mengganggu emosi dan mengganggu kegiatan -kegiatan kita. Misalnya seorang korban kejahatan mungkin menyalahkan diri sendiri karena tidak hati -hati.

Tujuan kognitif terapi adalah mengidentifikasi pikiran-pikiran yang tidak rasional, mengumpulkan bukti bahwa pikiran tersebut tidak rasional untuk melawan pikiran tersebut yang kemudian mengadopsi pikiran yang lebih realistik untuk membantu mencapai emosi yang lebih seimbang (Anonim, 2005b).

Exposure therapy

Para terapis membantu menghadapi situasi yang khusus, orang lain, obyek, memori atau emosi yang mengingatkan pada trauma dan menimbulkan ketakutan yang tidak realistik dalam ke -hidupannya.

Exposure in the imagination

Bertanya pada penderita untuk mengulang cerita secara detail sampai tidak mengalami hambatan menceritakan

Exposure in reality

Membantu menghadapi situasi yang sekarang aman tetapi ingin dihindari karena menyebabkan ketakutan yang sangat kuat (misal: kembali ke rumah setelah terjadi perampokan di rumah). Ketakutan bertambah kuat jika kita berusaha mengingat situasi tersebut dibanding berusaha melupakannya.

Pengulangan situasi disertai penyadaran yang berulang akan membantu menyadari situasi lampau yang menakutkan tidak lagi berbahaya dan dapat diatasi.

Play therapy

Berguna pada penyembuhan anak dengan PTSD. Terapi bermain dipakai untuk menerapi anak dengan PTSD.

Terapis memakai permainan untuk memulai topik yang tidak dapat dimulai secara langsung. Hal ini dapat membantu anak lebih merasa nya -man dalam berproses dengan pengalaman traumatiknya.

Support group therapy dan terapi bicara.

Dalam support group therapy seluruh peserta merupakan penderita PTSD yang mempunyai pengalaman serupa (misalnya korban bencana tsunami, korban gempa bumi) dimana dalam proses terapi mereka saling menceritakan tentang pengalaman traumatis mereka, kemudian mereka sa ling memberi penguatan satu sama lain (Swalm, 2005). Sementara itu dalam terapi bicara memperlihatkan bahwa dalam sejumlah studi penelitian dapat membuktikan bahwa terapi saling berbagi cerita

mengenai trauma, mampu memperbaiki kondisi jiwa penderita.

Dengan berbagi, bisa memperingan beban pikiran dan kejiwaan yang dipendam. Bertukar cerita membuat merasa senasib, bahkan merasa dirinya lebih baik dari orang lain.

Kondisi ini memicu seseorang untuk bangkit dari trauma yang diderita dan melawan kecemasan.

Prognosis:

Ad Vitam : Bonam

Ad Fungsionam : Dubia ad Bonam

Ad Sanasionam : Dubia ad Bonam

( Sering kambuh jika ada stressor kembali)

BAB IV

TINJAUAN PUSTAKA

ACUTE STRESS DISORDER

Definisi

Acute Stress Disorder adalah sebuah kondisi psikologis yang timbul sebagai tanggapan terhadap peristiwa yang mengerikan, hasil dari sebuah peristiwa traumatis di mana seseorang mengalami atau saksi suatu peristiwa yang menyebabkan korban / saksi untuk mengalami ekstrim, mengganggu atau tidak terduga takut, stres, (dan kadang-kadang rasa sakit) dan yang melibatkan atau mengancam serius, dirasakan cedera serius (biasanya kepada orang lain), atau kematian. Reaksi stres akut adalah variasi dari Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) dan adalah pikiran dan tubuh terhadap perasaan (baik yang dirasakan dan nyata) yang intens ketidakberdayaan.

Epidemiologi

Secara umum, prevalensi seumur hidup gangguan stress akut sebesar 8% sementara 5-15% mengalami bentuk subklinis. Pada kelompok yang pernah mengalami trauma sebelumnya, prevalensinya antara 5-75%. Wanita memiliki risiko yang lebih tinggi (10-12%) dibandingkan pria (5-6%) pada kelompok usia dewasa muda.

Etiologi

Stressor atau peristiwa traumatis di mana seseorang mengalami atau saksi suatu peristiwa yang menyebabkan korban / saksi untuk mengalami ekstrim, mengganggu atau tidak terduga takut, stres, (dan kadang-kadang rasa sakit) dan yang melibatkan atau mengancam, cedera serius, atau kematian.

Walaupun stressor diperlukan, namun stressor tidak cukup untuk menyebabkan gangguan. Faktor-faktor yang harus ikut dipertimbangkan adalah faktor biologis individual, faktor psikososial sebelumnya dan peristiwa yang terjadi setelah trauma.
Faktor kerentanan yang merupakan predisposisi tampaknya memainkan peranan penting dalam menentukan apakah gangguan akan berkembang, yaitu :

  1. Adanya trauma masa anak-anak
  2. Sifat gangguan kepribadian ambang, paranoid, dependen, atau anti sosial
  3. Sistem pendukung yang tidak adekuat
  4. Kerentanan konstitusional genetika pada penyakit psikiatrik
  5. Perubahan hidup penuh stress yang baru terjadi
  6. Persepsi lokus kontrol eksternal
  7. Penggunaan alkohol, walaupun belum sampai taraf ketergantungan

Jika trauma terjadi pada masa anak-anak maka akan terjadi penghentian perkembangan emosional, sedangkan jika terjadi pada masa dewasa akan terjadi regresi emosional.

Manifestasi Klinis

Gejala menunjukkan variasi yang besar, tetapi biasanya mereka menyertakan sebuah keadaan awal dari "linglung", dengan beberapa penyempitan bidang kesadaran dan penyempitan perhatian, ketidakmampuan untuk memahami rangsangan, dan disorientasi. Keadaan ini dapat diikuti baik oleh penarikan lebih lanjut dari situasi sekitarnya, atau dengan agitasi dan overeaktifitas. Tanda-tanda panik otonom kecemasan (takikardia, berkeringat, kemerahan) yang umumnya hadir. Gejala biasanya muncul dalam beberapa menit dari dampak dari stres rangsangan atau aktivitas, dan menghilang dalam waktu 2-3 hari (seringkali dalam beberapa jam). Amnesia sebagian atau lengkap untuk episode mungkin ada.

Seseorang dengan Gangguan Stress akut dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi, merasa terlepas dari tubuh mereka, pengalaman dunia sebagai tidak nyata atau mimpi, atau mengalami kenaikan kesulitan mengingat detail spesifik dari peristiwa traumatik (amnesia disosiatif). Peristiwa traumatik yang dialami kembali terus-menerus dalam setidaknya salah satu dari cara berikut: berulang, pikiran, mimpi, ilusi, episode kilas balik, atau rasa menghidupkan kembali pengalaman atau penderitaan pemaparan pada pengingat dari peristiwa traumatik.

Diagnosis

Kriteria diagnostik untuk gangguan stress akut menurut DSM IV adalah sebagai berikut:

  1. Orang telah terpapar dengan suatu kejadian traumatik dimana kedua dari berikut ini ditemukan:
    1. Orang mengalami, menyaksikan, atau dihadapkan dengan suatu kejadian atau kejadian-kejadian yang berupa ancaman kematian atau kematian yang sesungguhnya atau cedera yang serius, atau ancaman kepada integritas diri atau orang lain.
    2. Respon orang tersebut berupa rasa takut yang kuat, rasa tidak berdaya atau horor.
  2. Salah satu selama mengalami atau setelah mengalami kejadian yang menakutkan, individu tiga (atau lebih) gejala disosiatif berikut :
    1. perasaan subyektif kaku, terlepas, atau tidak ada responsivitas emosi
    2. penurunan kesadaran terhadap sekelilingnya (misalnya, berada dalam keadaan tidak sadar)
    3. derealisasi
    4. depersonalisasi
    5. amnesia disosiatif (yaitu, ketidakmampuan untuk mengingat aspek penting dari trauma)
  3. Kejadian traumatik secara menetap dialami kembali sekurangnya satu cara berikut: bayangan, pikiran, mimpi, ilusi, episode kilas balik yang rekuren, atau suatu perasaan hidupnya kembali pengalaman atau penderitaan saat terpapar dengna pengingat kejadian traumatic
  4. Penghindaran jelas terhadap stimuli yang menyadarkan rekoleksi trauma (misalnya, pikiran, perasaan, percakapan, aktivitas, tempat, orang).
  5. Gejala kecemasan yang nyata atau pengingat kesadaran (misalnya, sulit tidur, iritabilias, konsentrasi buruk, kewaspadaan berlebihan, respon kejut yang berlebihan, dan kegelisahan motorik).
  6. Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lain, menganggu kemampuan individu untuk mengerjakan tugas yang diperlukan, seperti meminta bantuan yang diperlukan atau menggerakan kemampuan pribadi dengan menceritakan kepada anggota keluarga tentang pengalaman traumatic.
  7. Gangguan berlangsung selama minimal 2 hari dan maksimal 4 minggu dan terjadi dalam 4 minggu setelah traumatik
  8. Tidak karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan, medikasi) atau kondisi medis umum, tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan psikotik singkat dan tidak semata-mata suatu eksaserbasi gangguan Aksis I atau Aksis II dan telah ada sebelumnya.

Pasien dengan gangguan disosiatif biasanya tidak memiliki derajat perilaku menghindar, kesadaran berlebih (hiperarousal) otonomik, atau riwayat trauma yang dilaporkan oleh pasien gangguan stress pascatraumatik. Sebagian karena publikasi yang luas dan telah diterima, istilah gangguan stress pascatraumatik dalam berita popular, klinisi harus juga mempertimbangkan kemungkinan suatu gangguan buatan atau berpura-pura.

Diagnosis Banding

· Post Traumatic Stress Disorder

Pada PTSD, pasien harus mengalami suatu stress emosional yang besar yang bersifat traumatic bagi setiap orang. Peristiwa trauma tersebut termasuk trauma peperangan, bencana alam, penyerangan, pemerkosaan, dan kecelakaan yang serius. PTSD terdiri dari pengalaman kembali trauma melalui mimpi dan pikiran yang membangunkan (wakin through), penghindaran yang persisten oleh penderita terhadap trauma dan penumpulan responsivitas pada penderita tersebut, kesadaran berlebihan (hyperarousal) yang persisten.

Menurut DSM-IV perbedaan antara gangguan stress akut dengan PTSD adalah lamanya gejala berlangsung yaitu pada gangguan stress akut berlangsung 2 hari hingga 1 bulan sedangkan pada PTSD berlangsung lebih dari 1 bulan.

· Gangguan Panik

Gangguan panik adalah ditandai dengan terjadinya serangan panik yang spontan dan tidak diperkirakan. Gangguan panik ini sering disertai dengan adanya agoraphobia yaitu ketakutan berada sendirian di tempat-tempat publik. Pasien ini dibawa berobat ke rumah sakit dengan keluhan berteriak-teriak ketakutan serta berguling-guling di lantai tempat kerjanya sehingga hal ini mendukung adanya suatu serangan panic yang spontan. Selain itu, pasien juga menghindari tempat-tempat umum atau transportasi umum.

Penatalaksanaan

Gangguan ini dapat diatasi sendiri dengan waktu atau mungkin berkembang menjadi gangguan yang lebih berat seperti PTSD. Namun hasil Creamer, O'Donnell dan Pattison's (2004) penelitian terhadap 363 pasien menunjukkan bahwa diagnosa Gangguan Stres akut hanya memiliki validitas prediktif terbatas untuk PTSD. Namun tidak menemukan bahwa pengalaman kembali peristiwa traumatik dan gairah lebih baik prediktor PTSD. Obat dapat digunakan untuk jangka waktu yang sangat singkat (sampai empat minggu)

Sejumlah penelitian telah dilakukan untuk menilai efektivitas konseling dan psikoterapi bagi orang-orang dengan ASD. Terapi perilaku kognitif yang mencakup eksposur dan restrukturisasi kognitif ternyata efektif dalam mencegah PTSD pada pasien yang didiagnosis dengan klinis ASD dengan hasil yang signifikan pada 6 bulan follow-up. Kombinasi relaksasi, restrukturisasi kognitif, imaginal eksposur dan vivo eksposur lebih unggul untuk mendukung konseling

Prognosis

Prognosis untuk gangguan ini sangat baik. Jika berkembang ke gangguan lain (biasanya PTSD), tingkat keberhasilan dapat bervariasi sesuai dengan spesifikasi yang terjadi pada gangguan.

BAB V

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kaplan HI. Sadock BJ.Synopsis of Psychiatry Behavioral Science/Clinical Psychiatry.10th ed.New York: Lippincot Williams & Wilkins.2007.pg: 322:28.
  2. American Psychiatric association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM-IV). 4th ed. Washington,DC:American Psychiatric Association; 2000.
  3. Ingram IM. Catatan Kuliah Psikiatri. 6th ed. Jakarta : Penerbit Buku kedokteran.1995. pg: 28:42.
  4. Kapita Selekta Kedokteran. 3th ed. Jakarta : Penerbit Media Aesculapsius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2001.pg :189:192.
  5. Maslim. Rusdi. Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ III: Reaksi Akut Stres. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Atmajaya.2001; pg 53.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar